Amanah

4 03 2008

AlhamduliLlah, salah satu amanah berat telah dilepaskan dari pundak ini, dan astaghfiruLlah, saya mohon ampun kepada Allah SWT atas segala kesalahan (salah kata, salah sikap, salah prioritas, …) selama mengemban amanah tersebut.

Saya coba renungi kisah Umar b Khattab berikut:

Umar bin Khattab, khalifah ke-2 dalam pemerintahan daulah Islam ini adalah pemimpin paling berkuasa pada zamannya, tapi sangat sederhana dan bijaksana dalam kepemimpinannya. Beliau, Umar bin Khattab, belum akan tertidur dengan lelap setiap malamnya jika belum berkeliling (tanpa pengawalan) untuk mencari tahu kondisi rakyat yang dipimpinnya. Hingga sampai pada suatu malam beliau mendengar tangis seorang anak karena kelaparan meminta makanan pada ibunya. Sang ibu mengatakan makanan yang direbusnya belum matang. Ketika Umar bertanya pada si ibu mengapa anaknya dibiarkan menangis sang ibu menjawab tidak ada makanan yang dapat disuguhkan buat anaknya. Dan yang direbus di perapian rupanya hanyalah batu agar anak yakin masih ada harapan akan makan jika telah matang karena sudah tiga hari menahan lapar.

Mengetahui keadaan seperti itu, Umar pulang dan mengambil sekarung gandum dari gudang, memikulnya sendiri, dan menyerahkan langsung kepada sang ibu sebagai bahan makanan. Ada yang mengatakan bahkan Umar sendirilah yang memasakkannya untuk ibu dan anak tadi.

Umar juga sangat detil memperhatikan hal sekecil apapun yang menjadi tanggung jawab dalam kepemimpinannya. Diriwayatkan ada seekor keledai yang tergelincir di jalan raya yang agak rusak (karena jalannya bolong-bolong) sampai patah kakinya. Mengetahui peristiwa ini Umar amat menyesal dan memohon ampunan kepada Allah karena takut dimintakan pertanggungjawabannya di akhirat. Beliau merasa bersalah karena itu terjadi pada masa kepemimpinannya yang masih menyisakan sarana jalan yang tidak memadai sehingga mencelakakan, sekalipun hanya seekor keledai.

Dikisahkan pula sepulangnya Umar dari Madinah, sampailah Umar di suatu desa terpencil dan bertemu dengan seorang nenek. Umar bertanya tentang bagaimanakah kepemimpinan Amirul Mu’minin (sang pemimpin). Nenek menjawab, ”Celakalah Umar, karena sampai dengan hari ini dia belum pernah berkunjung dan mengetahui dan memperdulikan keadaan saya sebagai rakyatnya.” Rupanya si nenek tidak tahu kalau yang pria di hadapannya itulah Umar (Amirul Mu’minin). Sampai ketika seorang sahabat lewat dan mengucapkan salam kepada Amirul Mu’minin si nenek baru sadar bahwa pria di hadapannya adalah pemimpin yang dimaksudkan. Akhirnya dengan perasaan rugi dan menyesali atas ketidakberesannya selama memimpin dengan disaksikan salah seorang sahabat tadi, Umar –setelah bersepakat dengan si nenek- membayar semacam tebusan kepada nenek atas kelalaiannya selama memimpin, tidak memperhatikan seluruh wilayah kekuasaannya dengan adil. Tentu saja dengan bertekad untuk selanjutnya akan memperhatikan setiap jengkal tanah kekuasaannya, tidak ada yang dilupakan dan dibiarkan begitu saja.

Begitu pula riwayat Umar bin ‘Abdul Aziz –khalifah kelima- selama memimpin. Semasa kepemimpinannya tidak ada lagi orang yang mau menjadi penerima zakat karena rakyatnya sudah mencapai tingkat kemakmuran yang berlebih. Sikap sederhana dan kerja kerasnya terwujudkan dalam kemakmuran pada seluruh negeri kala itu. Sejak awal menjabat, beliau menanggalkan seluruh kemewahan yang dimilikinya dan memerintah dengan kesederhanaan. Seluruh warisan dari pejabat sebelumnya dimasukkan menjadi milik negara. Perhatikan ketika beliau harus mematikan lampu ketika menerima tamu dari keluarganya sendiri karena tidak mau menggunakan fasilitas negara untuk kepentingan pribadi. Menurutnya, urusan keluarga adalah urusan pribadi, sehingga ia menolak berbuat korup kecil-kecilan. Beliau juga tidak bersedia meminum madu yang dibelikan istrinya karena tahu bahwa madu itu dibeli di pasar dengan menggunakan fasilitas kereta kuda milik negara.

Dikutip dari sini

Iklan

Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: